Minggu, 24 Juni 2012

Sejarah Pondok Pesantren Cipasung Tasikmalaya

 

Pondok Pesantren Cipasung

Sejarah Singkat Perjuangan Alm. KH. Ruhiat dalam Membina Pondok Pesantern CIpasung
Alm. KH. Ruhiat mendirikan dan memimpin Pondok Pesantren ini sejak didirikannya, yaitu akhir tahun 1931, sampai wafatnya tanggal 28 November 1977 bertepatan dengan 17 Dzulhijjah 1397 H. Dalam kurun waktu 46 tahun itu tidaklah sedikit suka dan duka yang menyertai beliau, terutama pada masa pendudukan Belanda dan Jepang. Hal ini dapat dibuktikan pada derap lajunya Pondok Pesantren CIpasung pada masa itu dan masa-masa setelah kemerdekaan negeri ini.
1. Pondok Pesantren Cipasung Pada Masa Penjajahan Belanda
Pondok Pesantren yang didirikan pada akhir tahun 1931, itu sudah tentu keadaan Negara yang masih dalam genggaman Kolonial, sehingga tidak mengherankan apabila pada saat itu banyak sekali halangan dan rintangan menghadang, baik dari masyarakat sendiri yang mayoritas belum mengenal ajaran agama dan sedikitnya pengetahuan juga dari pihak Kolonial yang menyebabkan Alm. KH. Ruhiat harus keluar masuk penjara. Walaupun keadaan demikian beliau dengan penuh kesabaran dan ketawakalan kepada Allah subhanahu wata’ala, tidak henti-hentinya membina Pesantren ini dengan ikhlas, memberikan pendidikan dan pengajaran kepada para santri tanpa mengenal lelah siang dan malam. Awalnya santri yang menetap di Pondok Pesantren ini berjumlah kurang lebih 40 orang yang sebagian besar adalah yang ikut dari Pesantren Cilenga, tempat beliau mondok. Di samping itu banyak pula para santri yang pada malam hari mengaji dan siangnya kembali ke rumahnya. Dan mereka ini berasal dari sekitar komplek Cipasung. Sebagai pembinaan agama terhadap anak-anak usia muda, pada tahun 1935 didirikan sekolah agama (madrasah diniyah). Sekolah inilah yang pertama sekali didirikan di Pondok Pesantren Cipasung. Mengingat telah banyaknya santri yang telah dewasa, maka untuk pengkaderan Mubaligh Islam pada tahun 1937 didirikanlah Kursus Kader Muballighin wal Musyawirin (KKM), sebagai suatu wadah latihan berpidato dan musyawarah yang diadakan setiap malam Kamis. Ketahanan aqidah dan jiwa patriotisme beliau dari pesantren mengundang kecurigaan Belanda sehingga beranggapan pesantren dapat mengancam kedudukan mereka. Terbukti dengan banyaknya ulama dan da’I yang ditangkap dan dipenjarakan. Hal ini juga dialami Alm. KH. Ruhiat yang pada tahun 1941 beserta Alm. KH. Zainal Mustofa dipenjara di Sukamiskin selama 53 hari. Selama itu pengajian di wakilkan oleh KH. Saefulmillah dan Alm. Ajengan Abdul Jabbar. Selang beberapa bulan setelah bebas, tepatnya pada tanggal 6 Maret 1942, beliau bersama berpuluh kiai lainya di tangkap lagi dan dipenjarakan di Ciamis. Namun berkat pertolongan Allah pada tanggal 9 Maret 1942 Belanda dipukul mundur oleh Jepang, maka beliau bersama kiai lainnya dibebaskan setelah menjalani hukuman penjara selama 3 hari.
2. Pondok Pesantren Cipasung Pada Masa Penjajahan Jepang
Pada masa ini, pendidikan di Pondok Pesantren Cipasung dapat dikatakan sedikit lebih maju yaitu dengan adanya keikutsertaan santri puteri dalam mengaji kitab besar bersama santri putera dimana sebelumnya hanya dapat mencapai ke kitab-kitab tingkat menengah seperti al-Fiyyah. Angkatan pertama ini pelopornya adalah Alm. Hj. Sua, yang berasal dari Cilampung Padakembang Leuwisari. Wafat Tahun1997 dan meninggalkan anak diantaranya Hj. Dra. Djuju Zubaedah. Dengan adanya santri puteri yang sudah dewasa, untuk mengkader mubalighoh maka pada tahun 1943 didirikan Kursus kader Mubalighoh sebagai wahan latihan berpidato khusus bagi santri puteri. Tidak sedikit gangguan dan rintangan yang menerpa beliau dalam tugasa agama dan negara ini. Peristiwa yang menjadi bukti kebenarannya ialah ketika terjadi pemberontakan Sukamanah pada tahun 1944, yang dipimpin oleh Alm. KH. Zainal Mustofa, Alm. KH. Ruhiat serta kiai-kiai lainnya, pada peristiwa tersebut ditangkap dan dipenjara di Tasikmalaya selama 2 bulan. Pengajian pada waktu itu diwakili oleh Alm. H. baruh dan KH. SAefulmillah.
3. Pondok Pesantren Setelah Proklamasi Kemerdekaan
Dengan diproklamasikannya Kemerdekaan RI sejak tanggal 17 Agustus 1945 berarti tidak ada satu egarapun yang menguasai negeri ini. Sejak itu Bangsa Indonesia mulai membangun egaranya dalam bidangnya masing-masing demi untuk mempertahankan dan mengisi kemerdekaan yang telah dicapai. Demikian pula halnya Alm. KH. Ruhiat yang terjun di dunia Pesantren, dengan diproklamasikannya kemerdekaan, beliau mengembangkan pesantren yang diasuhnya baik dalam pendidikan agama maupun dalam pendidikan umum, hal ini dibuktikan dengan didirikannya lembaga sekolah formal di Pesantren Cipasung setelah kemerdekaan dicapai bangsa ini. Meskipun Kolonial telah hengkang dari bumi pertiwi, namun situasi keamanan masih belumlah stabil terutama dengan datangnya kembali Belanda dengan agresi militernya yang ke II. Keadaan ini berpengaruh pula terhadap penyelenggaraan pendidikan Pondok pesantren. Peristiwa yang mengerikan yang menimpa Alm. KH. Ruhiat pada tahun 1949 waktu beliau sedang melaksanakan shalat Ashar bersama tiga orang santrinya, Belanda berusaha membunuhnya dengan melepaskan tembakan ke arahnya, namun berkat pertolongan dan perlindungan Allah SWT, usaha ini gagal. Dan peluru bersarang pada tiga orang santrinya, yaitu saudara Abdur Rozak yang berasal dari Tawang Banteng, saudara Ma’mun berasal dari Rancapaku keduanya gugur sebagai syuhada dan seorang lainya yaitu saudara Aen mendapat luka berat di kepalanya. Disamping itu adapula santri, yang ketika itu berada di asrama, terkena tembakan, yaitu saudar Abdul ‘Alim, beliau gugur sebagai syuhada, dan saudara Zaenal Muttaqien yang tertembak punggungmya. Sedangkan Alm. KH. Ruhiat ditangkap dan dipenjarakan di Tasikmalaya selama 9 bulan. Beliau dibebaskan kembali pada tanggal 27 Desember 1949. Sementara itu pengajian dipegang oleh KH Ilyas Ruhia.t. Walau beraneka cobaan dan ceriat pahit mengiringinya, beliau tetap sabar dan tawakkal kepada Allah SWT dalam perjuangannya, sehingga pesantrenpun tidak hanyut oleh zaman apalagi karam diterpa gelombang. Malahan ini menjadi cambuk untuk pertumbuhan dan perkembangan Pondok pesantren Cipasung ini. Adapun lembaga pendidikan yang didirikan di Pesantren Cipasung setelah kemerdekaan yaitu pada tahun 1949 didirikan Sekolah Pendidikan Islam (SPI). Pada sekolah ini di samping pendidikan agama diberikan pula pengetahuan umum, lima tahun kemudian, yaitu tahun 1953 sekolah ini berubah nama menjadi Sekolah Menengah Pertama Islam (SMPI) yang mendapat status DIAKUI tahun 1985 denagn nomor 802/102/Kep/i/1985 dan pada tahun 1994 statusnya menjaid DISAMAKAN. Pada akhir tahun 1953 didirikan pula Sekolah Rendah Islam (SRI) yang kemudian berubah menjadi Madrasah Wajib Belajar (MWB), dan sekarang menjadi Madrasah Ibtidaiyah (MI). Sebagai kelanjutan MI, SMPI, pada_ tahun 1952 didirikan Sekolah Menegah Atas Islam (SMAI). Cita-cita beliau untuk mengembangkan Pondok pesantren tidak berhenti sampai disitu saja, akan tetapi beliau mampu pula mendirikan perguruan tinggi Silam yaitu 5 hari sebelum meletusnya pemberontakan G 30 S PKI tepatnya pada tanggal 25 September 1965 dengan Fakultas Tarbiyah yang pertama dibuka, dimana pada tahun 1969 mendapat status DIAKUI dengan Surat Keputusan Menteri Agama No.07 tahun 1969. sekarang statusnya meningkat menjadi TERAKREDITASI. Pada tahun 1969 didirikan pula Sekolah Persiapan IAIN yang kemudian pada tahun 1978 berubah menjadi Madrasah Aliyah Negeri (MAN). Pada tahun 1970 didirikan pula Fakultas Ushuludin filial Cipasung, namun dengan adanya pemusatan ke induknya maka Fakultas ini hanya berjalan dalam dua tahun saja. Dan pada tahun 1992 didirikan pula Madrasah Tsanawiyyah Cipasung (MTs). Semua lembaga-lembaga pendidikan tersebut berada di bawah koordinasi suatu Yayasan Pesantren Cipasung dengan Akta Notaris Yayasan No. 11 tahun 1967. Alm. KH. Ruhiat tidak hanya aktif di dunia pesantren saja, namun beliau aktif pula dalam suatu organisasi Islam yaitu Jam’iyyah Nahdlatul ulama. Jabatan yang pernah beliau duduki ialah Ketua Syuriah PCNU tasikmalaya, Anggota Syuriah PWNU Jawa Barat, dan A’wan PBNU. Dengan tersedianya berbagai pendidikan di Pondok Pesantren, sejak MI sampai Perguruan Tinggi mnaka kian hari bertambah pula santri yang berdatangan dari berbagai pelosok persada tanah air khususnya daerah Jawa Baratd an DKI Jakarta. Hal ini membuktikan bahwa Pondok Pesantren Cipasung dituntu dan diperlukan keberadaannya yang harus dipertahankan kelestariannya, terutama dalam mencetak kader Ulama Intelek dan Intelek Ulama. Di tengah-tengah berbagai kesibukan dari aneka ragam kegiatan disaat umat sangat memerlukan bimbingannya, apa daya hendak dikata tulisan takdir ilahi berlaku atas diri beliau, tepatnya pada hari Senin jam 13.00 tanggal 17 Dzulhijjah 1397 H bertepatan dengan tanggal 28 November 1977 beliau berpulang ke rahmatullah di bandung setelah mendapat perawatan dokter selama 8 hari. Beliau meninggalkan 2 orang isteri dan 19 anak (9 putera dan 10 puteri) sebagai penerus estafet operjuangan beliau, maka puteranya yang bernama KH. Ilyas Ruhiat dikukuhkan sebagai pemegang tampuk pimpinan Pondok pesantren Cipasung

KH Zainal Mustofa Pahlawan Tasikmalaya

Sejarah Nasional
Pada tahun
(1899 – 1944)
Zaenal Mustofa adalah pemimpin sebuah pesantren di Tasikmalaya dan pejuang Islam pertama dari Jawa Barat yang mengadakan pemberontakan terhadap pemerintahan Jepang. Nama kecilnya Hudaeni. Lahir dari keluarga petani berkecukupan, putra pasangan Nawapi dan Ny. Ratmah, di kampung Bageur, Desa Cimerah, Kecamatan Singaparna (kini termasuk wilayah Desa Sukarapih Kecamatan Sukarame) Kabupaten tasikmalaya (ada yang menyebut ia lahir tahun 1901 dan Ensiklopedi Islam menyebutnya tahun 1907, sementara tahun yang tertera di atas diperoleh dari catatan Nina Herlina Lubis, Ketua Masyarakat Sejarawan Indonesia Cabang Jawa Barat). Namanya menjadi Zaenal Mustofa setelah ia menunaikan ibadah haji pada tahun 1927.
Hudaeni memperoleh pendidikan formal di Sekolah Rakyat. Dalam bidang agama, ia belajar mengaji dari guru agama di kampungnya. Kemampuan ekonomis keluarga memungkinkannya untuk menuntut ilmu agama lebih banyak lagi. Pertama kali ia melanjutkan pendidikannya ke pesantren di Gunung Pari di bawah bimbingan Dimyati, kakak sepupunya, yang dikenal dengan nama KH. Zainal Muhsin. Dari Gunung Pari, ia kemudian mondok di Pesantren Cilenga, Leuwisari, dan di Pesantren Sukamiskin, Bandung. Selama kurang lebih 17 tahun ia terus menggeluti ilmu agama dari satu pesantren ke pesantren lainnya. Karena itulah ia mahir berbahasa Arab dan memiliki pengetahuan keagamaan yang luas.
Lewat ibadah haji, ia berkenalan dengan ulama-ulama terkemuka. Ia pun mengadakan tukar pikiran soal keagamaan dan berkesempatan melihat pusat pendidikan keagamaan di Tanah Suci. Kontak dengan dunia luar itu mendorongnya untuk mendirikan sebuah pesantren. Maka sekembalinya dari ibadah haji, tahun 1927, ia mendirikan pesantren di Kampung Cikembang dengan nama Sukamanah. Sebelumnya, di Kampung Bageur tahun 1922 telah berdiri pula Pesantren Sukahideng yang didirikan KH. Zainal Muhsin. Melalui pesantren ini ia menyebarluaskan agama Islam, terutama paham Syafi’i yang dianut oleh masyarakat Indonesia pada umumnya dan umat Islam Jawa Barat pada khususnya.
Di samping itu, ia juga mengadakan beberapa kegiatan keagamaan ke pelosok-pelosok desa di Tasikmalaya dengan cara mengadakan ceramah-ceramah agama. Maka sebutan kiai pun menjadi melekat dengan namanya. KH. Zaenal Mustofa terus tumbuh menjadi pemimpin dan anutan yang karismatik, patriotik, dan berpandangan jauh ke depan. Tahun 1933, ia masuk Jamiyyah Nahdhatul Ulama (NU) dan diangkat sebagai wakil ro’is Syuriah NU Cabang Tasikmalaya.
Sejak tahun 1940, KH. Zaenal Mustofa secara terang-terangan mengadakan kegiatan yang membangkitkan semangat kebangsaan dan sikap perlawanan terhadap pendudukan penjajah. Beliau selalu menyerang kebijakan politik kolonial Belanda yang kerap disampaikannya dalam ceramah dan khutbah-khutbahnya. Atas perbuatannya ini, ia selalu mendapat peringatan, dan bahkan, tak jarang diturunkan paksa dari mimbar oleh kiai yang pro Belanda.
Setelah Perang Dunia II, tepatnya pada 17 November 1941, KH. Zaenal Mustofa bersama Kiai Rukhiyat (dari Pesantren Cipasung), Haji Syirod, dan Hambali Syafei ditangkap Belanda dengan tuduhan telah menghasut rakyat untuk memberontak terhadap pemerintah Hindia Belanda. Mereka ditahan di Penjara Tasikmalaya dan sehari kemudian dipindahkan ke penjara Sukamiskin Bandung, dan baru bebas 10 Januari 1942.
Kendati sudah pernah ditahan, aktivitas perlawanannya terhadap penjajah tidak surut. Akhir Februari 1942, KH. Zaenal Mustofa bersama Kiai Rukhiyat kembali ditangkap dan dimasukkan ke penjara Ciamis. Kedua ulama ini menghadapi tuduhan yang sama dengan penangkapannya yang pertama. Hingga pada waktu Belanda menyerah kepada Jepang, ia masih mendekam di penjara.
Pada tanggal 8 Maret 1942 kekuasaan Hindia Belanda berakhir dan Indonesia diduduki Pemerintah Militer Jepang. Oleh penjajah yang baru ini, KH. Zaenal Mustofa dibebaskan dari penjara, dengan harapan ia akan mau membantu Jepang dalam mewujudkan ambisi fasisnya, yaitu menciptakan Lingkungan Kemakmuran Bersama Asia Timur Raya. Akan tetapi, apa yang menjadi harapan Jepang tidak pernah terwujud karena KH. Zaenal Mustofa dengan tegas menolaknya. Dalam pidato singkatnya, pada upacara penyambutan kembali di Pesantren, ia memperingatkan para pengikut dan santrinya agar tetap percaya pada diri sendiri dan tidak mudah termakan oleh propaganda asing. Ia malah memperingatkan bahwa fasisme Jepang itu lebih berbahaya dari imperialisme Belanda.
Begitulah, pasca perpindahan kekuasaan dari Belanda ke Jepang, sikap dan pandangannya itu tidak pernah berubah. Bahkan, kebenciannya semakin memuncak saja manakala menyaksikan sendiri kezaliman penjajah terhadap rakyat.
Pada masa pemerintahan Jepang ini, ia menentang pelaksanaan seikeirei, cara memberi hormat kepada kaisar Jepang dengan menundukkan badan ke arah Tokyo. Ia menganggap perbuatan itu bertentangan dengan ajaran Islam dan merusak tauhid karena telah mengubah arah kiblat. Sikap ini pernah ia tunjukkan secara terang-terangan di muka Jepang. Pada waktu itu, semua alim ulama Singaparna harus berkumpul di alun-alun dan semua diwajibkan melakukan seikerei. Di bawah todongan senjata, semua ulama terpaksa melakukan perintah itu, hanya KH. Zaenal Mustofa yang tetap membangkang. Ia juga mengatakan kepada Kiai Rukhiyat, yang hadir pada waktu itu, bahwa perbuatan tersebut termasuk musyrik.
Menurutnya, orang-orang musyrik itu tidak perlu ditakuti, apalagi diikuti perintahnya. Sebaliknya, mereka justeru harus diperangi dan dimusnahkan dari muka bumi. Ia yakin bahwa dalam Islam hanya Allah Swt lah yang patut ditakuti dan dituruti; Allah Swt selalu bersama-sama orang yang mau dekat kepada-Nya dan selalu memberikan pertolongan dan kekuatan kepada orang-orang yang mau berjuang membela agamanya. Ia berprinsip lebih baik mati ketimbang menuruti perintah Jepang. Keyakinan seperti ini senantiasa ditanamkan kepada para santrinya dan masyarakat Islam sekitarnya. Ia juga menentang dan mengecam romusha, pengerahan tenaga rakyat untuk bekerja dengan paksa.
Dengan semangat jihad membela kebenaran agama dan memperjuangkan bangsa, KH. Zaenal Mustofa merencanakan akan mengadakan perlawanan terhadap Jepang pada tanggal 25 Pebruari 1944 (1 Maulud 1363 H). Mula-mula ia akan menculik para pembesar Jepang di Tasikmalaya, kemudian melakukan sabotase, memutuskan kawat-kawat telefon sehingga militer Jepang tidak dapat berkomunikasi, dan terakhir, membebaskan tahanan-tahanan politik. Untuk melaksanakan rencana ini, KH. Zaenal Mustofa meminta para santrinya mempersiapkan persenjataan berupa bambu runcing dan golok yang terbuat dari bambu, serta berlatih pencak silat. Kiai juga memberikan latihan spiritual (tarekat) seperti mengurangi makan, tidur, dan membaca wirid-wirid untuk mendekatkan diri kepada Allah Swt.
Persiapan para santri ini tercium Jepang. Segera mereka mengirim camat Singaparna disertai 11 orang staf dan dikawal oleh beberapa anggota polisi untuk melakukan penangkapan. Usaha ini tidak berhasil. Mereka malah ditahan di rumah KH. Zaenal Mustofa. Keesokan harinya, pukul 8 pagi tanggal 25 Februari 1944, mereka dilepaskan dan hanya senjatanya yang dirampas.
Tiba-tiba, sekitar pukul 13.00, datang empat orang opsir Jepang meminta agar KH. Zaenal Mustofa menghadap pemerintah Jepang di Tasikmalaya. Perintah tersebut ditolak tegas sehingga terjadilah keributan. Hasilnya, tiga opsir itu tewas dan satu orang dibiarkan hidup. Yang satu orang ini kemudian disuruh pulang dengan membawa ultimatum. Dalam ultimatum itu, pemerintah Jepang dituntut untuk memerdekakan Pulau Jawa terhitung mulai 25 Pebruari 1944. Dalam insiden itu, tercatat pula salah seorang santri bernama Nur menjadi korban, karena terkena tembakan salah seorang opsir.
Setelah kejadian tersebut, menjelang waktu salat Asar (sekitar pukul 16.00) datang beberapa buah truk mendekati garis depan pertahanan Sukamanah. Suara takbir mulai terdengar, pasukan Sukamanah sangat terkejut setelah tampak dengan jelas bahwa yang berhadapan dengan mereka adalah bangsa sendiri. Rupanya Jepang telah mempergunakan taktik adu domba. Melihat yang datang menyerang adalah bangsa sendiri, Zaenal Mustofa memerintahkan para santrinya untuk tidak melakukan perlawanan sebelum musuh masuk jarak perkelahian. Setelah musuh mendekat, barulah para santri menjawab serangan mereka. Namun, dengan jumlah kekuatan lebih besar, ditambah peralatan lebih lengkap, akhirnya pasukan Jepang berhasil menerobos dan memorak-porandakan pasukan Sukamanah. Peristiwa ini dikenal dengan Pemberontakan Singaparna.
Para santri yang gugur dalam pertempuran itu berjumlah 86 orang. Meninggal di Singaparna karena disiksa sebanyak 4 orang. Meninggal di penjara Tasikmalaya karena disiksa sebanyak 2 orang. Meninggal di Penjara Sukamiskin Bandung sebanyak 38 orang, dan yang mengalami cacat (kehilangan mata atau ingatan) sebanyak 10 orang.
Pun, sehari setelah peristiwa itu, antara 700-900 orang ditangkap dan dimasukkan ke dalam penjara di Tasikmalaya. Sementara itu, KH. Zaenal Mustofa sempat memberi instruksi secara rahasia kepada para santri dan seluruh pengikutnya yang ditahan agar tidak mengaku terlibat dalam pertempuran melawan Jepang, termasuk dalam kematian para opsir Jepang, dan pertanggungjawaban tentang pemberontakan Singaparna dipikul sepenuhnya oleh KH. Zaenal Mustofa. Akibatnya, sebanyak 23 orang yang dianggap bersalah, termasuk KH. Zaenal Mustofa sendiri, dibawa ke Jakarta untuk diadili. Namun mereka hilang tak tentu rimbanya.
Besarnya pengaruh KH Zaenal Mustofa dalam pembentukan mental para santri dan masyarakat serta peranan pesantrennya sebagai lembaga pendidikan dan pembinaan umat membuat pemerintah Jepang merasa tidak bebas jika membiarkan pesantren ini tetap berjalan. Maka, setelah peristiwa pemberontakan tersebut, pesantren ini ditutup oleh Jepang dan tidak diperbolehkan melakukan kegiatan apapun.
Belakangan, Kepala Erevele Belanda Ancol, Jakarta memberi kabar bahwa KH. Zaenal Mustofa telah dieksekusi pada 25 Oktober 1944 dan dimakamkan di Taman Pahlawan Belanda Ancol, Jakarta. Melalui penelusuran salah seorang santrinya, Kolonel Syarif Hidayat, pada tahun 1973 keberadaan makamnya itu ditemukan di daerah Ancol, Jakarta Utara, bersama makam-makam para santrinya yang berada di antara makam-makam tentara Belanda. Lalu, pada 25 Agustus 1973, semua makam itu dipindahkan ke Sukamanah, Tasikmalaya.
Pada tanggal 6 Nopember 1972, KH. Zaenal Mustofa diangkat sebagai Pahlawan Pergerakan Nasional dengan Surat Keputusan Presiden Republik Indonesia No. 064/TK/Tahun 1972.***
Quote:KH Zaenal Mustofa: Ulama Pejuang dari Tasikmalaya
Dalam sejarah kemerdekaan kita, banyak sekali sosok pejuang yang berasal dari kalangan ulama. Termasuk kalangan pesantren. Salah satunya adalah KH. Z. Mustofa, ulama pejuang dari Sukamanah, Tasikmalaya, yang ditetapkan sebagai pahlawan nasional pada 20 November 1972.
Tidak banyak yang mengenalnya. Di Jakarta, sejauh ini tidak ada nama jalan yang mengabadikan namanya. Begitu pula di Bandung, ibukota provinsi Jawa Barat. Hanya di Tasikmalaya nama KHZ Mustofa terpampang sebagai nama jalan protokol.
Kisah heroik Mustofa menjadi catatan perjalanan sejarah Tasikmalaya. Ia berani menyerang tentara Jepang. Perlawanan yang dilakukan oleh ulama ini sebagai penolakan terhadap penjajah yang ingin membumihanguskan pendidikan pesantren. Peristiwa itu tidak akan pernah dilupakan warga setempat dan keluarga korban.
Tepatnya pada 1 Rabiul Awal 1365 H (25 Pebruari 1944), di Sukamanah, Kabupaten Tasikmalaya, terjadi pertempuran hebat antara pejuang (santri) melawan penjajah. Pertempuran tersebut merenggut banyak korban jiwa para pejuang.
Menjelang waktu solat Ashar hari itu, puluhan truk militer mendatangi Sukamanah. Pihak Jepang menganggap pesantren yang dipimpin KHZ Mustofa itu menjadi basis pemberontak. Begitu tiba, para serdadu Jepang langsung melakukan tembakan salvo. Mereka juga menembaki para santri yang melawan dengan senjata seadanya, seperti pedang dan bambu runcing.
Melihat yang datang menyerang adalah anak bangsa sendiri (para serdadu Jepang itu adalah orang Indonesia), saat itu Mustofa memerintahkan para santrinya tidak melakukan perlawanan, sebelum musuh masuk jarak perkelahian.
Setelah musuh mendekat, barulah para santri menjawab serangan mereka. Namun, dengan jumlah kekuatan lebih besar, ditambah peralatan lebih lengkap, akhirnya pasukan Jepang berhasil menerobos dan memorak-porandakan pasukan Sukamanah. Dalam pertempuran yang tidak seimbang itu, sekitar 86 pejuang gugur, dan Mustofa ditangkap bersama 21 santrinya.
Pertempuran itu merupakan puncak dari perseteruan antara pesantren Sukamanah dengan pihak Jepang. Sehari sebelumnya (24 Februari 1944), pasukan Jepang juga melakukan penyerangan. Mereka mengirimkan satu regu pasukan bersenjata, guna menangkap Mustofa dan para santrinya. Itu dilakukan karena Jepang tahu sikap Mustofa, yang bertekad menentang penjajahan. Upaya penangkapan pada hari itu gagal, pasukan Jepang bisa dilumpuhkan dan menjadi tawanan Sukamanah. Namun, semua tawanan itu dibebaskan keesokan harinya, hanya senjatanya yang dirampas.
Keesokan harinya, Jepang mengirimkan empat orang ke Sukamanah dan meminta agar Mustofa menyerah, tetapi tidak berhasil. Malahan, dari empat orang yang datang itu, tiga di antaranya berhasil dilumpuhkan, dan satu orang bisa lolos. Setelah itu, sore harinya, serangan kembali dilakukan dengan jumlah pasukan lebih besar.
Setelah itu, Mustofa tertangkap, namun tidak diketahui keberadaannya. Belakangan, Kepala Erevele Belanda Ancol Jakarta memberi kabar: KHZ Mustofa meninggal dunia pada 25 Oktober 1944 dan dimakamkan di Taman Pahlawan Belanda Ancol Jakarta.
Mustofa dilahirkan pada 1901 di Kampung Bageur, Desa Cimerah Kecamatan (sekarang lokasi itu menjadi wilayah Desa Sukarapih Kecamatan Sukarame), Kabupaten Tasikmalaya. Putra pasangan petani Nawapi dan Ny. Ratmah itu dibesarkan dalam keluarga yang taat beragama.
Seperti banyak putra pribumi lainnya, Mustofa kecil belajar di Sekolah Rakyat. Setelah itu, ia melanjutkan ke pesantren. Pertama kali masuk pesantren di Gunung Pari di bawah bimbingan Dimyaty yang merupakan kakak sepupunya. Dimyati dikenal dengan nama K.H. Zainal Muhsin. Dari Gunung Pari, ia kemudian menimba ilmu di Pondok Pesantren Cilenga, Leuwisari, dan di Pondok Pesantren Sukamiskin, Bandung.
Walaupun masa kecilnya di zaman penjajahan Belanda, semangat jihad yang ditanamkan kakak sepupunya, Dimyati, tertanam sangat kuat dalam diri Mustofa. Tahun 1927, Mustofa mendirikan pesantren di Kampung Cikembang dengan nama Sukamanah. Sebelumnya, di Kampung Bageur tahun 1922 telah berdiri pula pesantren yang didirikan K.H. Zainal Muhsin, yaitu Pesantren Sukahideng.
Saat itu, Mustofa tumbuh menjadi pimpinan dan anutan yang karismatik, patriotik, dan berpandangan jauh ke depan. Tahun 1933, ia masuk Jamiyyah Nahdhatul Ulama (NU) dan diangkat sebagai wakil rois Syuriah NU Cabang Tasikmalaya.
Sikapnya yang antipenjajah, tentu saja ditanamkan kepada para santrinya, yang jumlahnya sekitar 700 orang. Sikap itu kadang disampaikan terang-terangan di muka umum. Sehingga, tidak jarang, saat berkhotbah ia sering diturunkan dari mimbar oleh kiai yang propenjajah.
Bersama KH Ilyas Ruhiyat (pimpinan Pondok Pesantren Cipasung), Mustofa ditangkap Belanda pada 17 November 1941. Ia kemudian ditahan di Penjara Tasikmalaya. Sehari kemudian, dipindahkan ke Sukamiskin Bandung, dan baru bebas 10 Januari 1942.
Kendati sudah pernah ditahan, aktivitas perlawanannya terhadap penjajah tak surut. Akhir Februari 1942, Mustofa kembali ditangkap dan dimasukkan penjara Ciamis. Hingga pada waktu Belanda menyerah kepada Jepang, ia masih mendekam di penjara. Akhirnya, Mei 42, ia dibebaskan seorang kolonel Jepang.
Pasca perpindahan kekuasaan dari Belanda ke Jepang, sikap dan pandangannya terhadap penjajah tidak berubah. Bahkan, kebenciannya semakin memuncak, manakala menyaksikan sendiri kezaliman penjajah terhadap rakyat. Itu semua membuat tekadnya menentang dan menyatakan berontak terhadap Jepang semakin kuat.
Setelah ditangkap Jepang dalam pertempuran heroik di Sukamanah, keberadaan KHZ Mustofa sempat tidak jelas. Tidak ada yang tahu kiai karismatik itu dimakamkan di mana.
Akhirnya, salah seorang santrinya, Kolonel Syarif Hidayat, menelusuri keberadaan makamnya. Hasilnya, pada 1973 keberadaan makam pahlawan nasional itu ditemukan di daerah Ancol, Jakarta Utara. Di tempat itu, makam Mustofa bersama 21 santrinya, berada di antara makam tentara Belanda.
Setelah dicek administrasi pemakaman dan lainnya, dapat dipastikan bahwa benar itu adalah makam KHZ Mustofa bersama santrinya. Lalu, pada 25 Agustus 1973, semua makam itu dipindahkan ke Sukamanah, Tasikmalaya.
Bupati Tasikmalaya, Tatang Farhanul Hakim mengaku pihaknya sangat bangga dengan perjuangan KHZ Mustofa. Ia berharap semangat jihad yang dilakukan Mustofa dan para santrinya tidak pernah padam menjadi teladan generasi sekarang. “Semangat itu harus tetap menyala, hanya saja kontek jihad yang dilakukan sekarang bukan perang, melainkan melawan kebodohan, kemiskinan, dan ketertinggalan,” katanya.
Setelah mengabadikan namanya menjadi nama jalan protokol di Tasiklamaya, Tatang mengaku pihaknya akan membangun monumen KHZ Mustofa di Singaparna. Monumen itu menjadi symbol kepahlawanan rakyat Tasikmalaya melawan penjajah.

Jumat, 22 Juni 2012

Saatnya Mengaktifkan Kembali Otak Kanan

Sebenarnya sudah lama aku mengetahui bahwa otak manusia itu dibagi menjadi dua, yaitu otak kiri dan otak kanan. tapi baru sekarang megetahui apa perbedaan keduanya, dan menyadari aku lebih condong ke otak kiri atau otak kanan. yang bisa aku garis bawahi adalah otak kiri identik dengan logika, fakta, penuh pertimbangan, kenyataan dan pasti. sedangkan otak kanan identik dengan perasaan, spontanitas, imajinasi, kemungkinan dan acak. dan aku termasuk yang mana? aku rasa sudah mengalami condong di keduanya tapi bukan saat yang bersamaan dan dalam jangka waktu yang terlalu lama.
Ini berdasarkan pengamatan hidupku selama ini. sewaktu kecil sampai kelas 3 SMP aku merasa lebih condong ke otak kanan. aku jarang berfikir dengan logika, suka bergaul, suka ikut organisasi, suka pelajaran penjabaran, tidak suka berhitung (matematika dan fisika), jika mengerjakan soal berhitung biasanya ketemu jawabannya tapi tidak tahu rumusnya, dan masih banyak lagi.
Ketika masuk SMA(IPA) semua itu terasa mulai pudar. tidak pernah ikut organisasi, pelajaran full berhitung (matematika, fisika, kimia) dan pelajaran penjabaran mulai ditinggalkan, dituntut mengerjakan soal berhitung harus melalui rumus pasti. ditambah lagi ketika masuk kursus Komputer (TIK) belajar ilmu pemrograman dan tidak ada materi desain. setiap masuk dituntut belajar tentang kode-kode yang memabukkan dan itu aku sebut bahasa LOGIKA. pernah suatu saat praktik ilmu pemrograman yang diajarkan, dan ternyata terjadi error. ketika ditanya Bpk pembimbingnya aku menjawab “perasaan saya sudah sama semua pak fariabelnya”. eeeee, malah diomeli deh sama bapak pembimbingnya, “kalau belajar ilmu pemrograman itu jangan memakai perasaan tapi memakai logika“.
Saat bekerja pun aku juga pernah bilang “perasaan sudah sama dengan yang tadi pak” tetep saja mereka menjawab “jangan pakai perasaan“. Hah, gak heran kalau kemarin ada cewek yang bilang “dasar orang gak berperasaan“. Hahaha, maaf non perasaanku sudah terlanjur tergadaikan dan ditukar dengan bahasa logika. ya logikanya kalau 1+1=2.
Penggalan pengalaman di atas termasuk kesalahan karena tidak menyeimbangkan kerja otak kanan dan otak kiri, sewaktu kecil hanya otak kanan saja yang digunakan dan otak kiri tidak pernah diasah, sedangkan berenjak dewasa otak kiri dituntut untuk bekerja tapi otak kanan yang dulunya sudah dilatih diabaikan. Setelah mengetahui perbedaan otak kanan dan otak kiri serta fungsinya yang berbeda, alangkah baiknya bisa menyeimbangkan keduanya. jadi agar sama-sama bekerja dan sama-sama memberi manfaat. Tapi untuk menyeimbangkan itu semua tidaklah mudah, bahkan untuk yang condong ke otak kanan akan berpindah ke otak kiri saja butuh proses, waktu dan konsisten.
Untuk masalah bagaimana mengaktifkan cara berfikir otak kanan, aku sendiri belum tahu pasti, yang jelas aku mau melatih otak kanan dengan berkreasi menulis unek-unek melalui blog ini. karena ketika ikut event Blogilicious Trah Yogyakarta kemarin, aku mendapat pengalaman bahwa menulis artikel blog termasuk melatih otak kanan. kalau menulis (bercerita) menggunakan otak kiri saja maka akan kesulitan, jadi manfaatkan otak kanan (perasaan dan imajinasi) untuk menuangkan isi hati ke sebuah tulisan.
Mungkin itu sebabnya kenapa selama belajar blog aku lebih sering otak-atik kode dan gonta-ganti template daripada menulis posting, menulis posting menurutku adalah hal yang berat dan tidak setiap saat mengalir. mungkin hanya pada musim banyak ide saja bisa menuangkan tulisan, tapi ketika musim hati ini mendung ya bisa-bisa sebulan gak ada posting.
Kata Kunci Masuk : • aktivasi otak kanancara aktivasi otak kanansoal logika asah otakcara mengaktifkan otak kananaktifasi otak kananbelajar mengasah otak kananmengaktifkan otak kanan dan kirimembuka otak kanan-dan kiricara menggunakan otak kanan untuk belajar fisikacara mengaktifkan otak kanan manusia

45 Cara yang Bisa Anda Pilih Untuk Menaklukkan Hati Seorang Wanita


HeadlineMeluluhkan hati wanita bukanlah sesuatu yang mudah buat Anda, para pria. Ingin tahu cara meluluhkan hati wanita? Inilah 45 caranya, yang ternyata sederhana. 1. Ajaklah berdansa tanpa wanita menduganya. Tak harus di lantai dansa, tetapi di tempat mana saja dengan lagu romantis. Terasa menyentuh, ketika Anda baru saja menghabiskan makan malam bersama. Tetap cool, ingat film-film lawas yang menampilkan adegan dansa romantis.
2. Ketika ada helaian rambut melekat di wajah cantiknya, singkirkanlah segera dengan jemari Anda penuh kelembutan.
3. Wanita Anda butuh perhatian tanpa ia memintanya. Seperti ketika ia tengah berjalan ke arah Anda. Nah, agar membuatnya merasa berharga, sambutlah kedatangannya dengan senyum pesona.
4. Cium pundaknya, saat ia tidur membelakangi Anda. Sepenuh rasa, sepenuh hati.
5. Peluklah pinggangnya ketika memperkenalkan wanita Anda kepada keluarga ataupun kerabat. Ingat, pelukanlah dengan hangat dan jangan terlalu erat.
6. Remas jemari tangan halusnya ketika Anda dan dirinya melihat wanita lain berbaju seksi berjalan melintas. Ini penghargaan baginya.
7. Telepon wanita Anda, ketika Anda merasa sedih. Atau ketika Anda ingin berbagi cerita.
8. Sabuni punggungnya ketika Anda tengah mandi bersama. Usaplah dengan penuh kelembutan.
9. Tanpa memaksa, mintalah ia menunjukan foto masa kecilnya. Kecil, namun terasa besar artinya.
10. cium kelopak matanya. Sikap yang menunjukan rasa kasih dan sayang Anda terhadapnya.
11. Ketika wanita Anda tersedu-sedu di ujung telepon, hibur dan tegarkan hatinya. Lalu, segaralah Anda mendatanginya.
12. Agar tak membosankan, sesekali Anda memanggil nama tengah atau panggilan yang tak biasanya. Terkejut, tapi menyenangkan baginya.
13. Belikan kaset, CD atau DVD lagu kesayangannya. Sungguh, kejutan yang membahagiakan.

14. Sentuh lengannya saat Anda ingin meninggalkannya sesaat. Kemudian sentuh lagi lengannya, saat Anda kembali menemuinya.
15. Tanggalkan sesuatu yang tak perlu melekat pada tubuh wanita Anda, saat ia tertidur di mobil. Dan, letakanlah selimut hangat atau jaket Anda di tubuhnya, agar menghangatkan.
16. Ingatlah tanggal jadi Anda berdua. Anda harus mengungkapkannya terlebih dulu, sebelum wanita yang Anda cintai itu mengingatkannya kepada Anda.
17. Anda bisa mengirimkan apa saja melalui pos atau jasa titipan kurir. Wanita Anda akan terpesona saat menerimanya.
18. Anda yakin menguatkan hatinya, bahwa Anda adalah pria tepat untuknya. Lakukanlah, setiap hatinya gundah gulana.
19. Telepon wanita Anda, saat akan memasuki pesawat atau ketika Anda akan melakukan perjalanan. Ia merasa dibutuhkan.
20. Ucapkan ‘I Love U’ saat Anda sedang berbicara dengannya. Sekalipun, pembicaraannya tak ada hubungannya dengan masalah asmara.
21. Tak ada salahnya Anda mengajaknya menonton sepakbola atau olahraga kesayangan. Namun ingat, berilah perhatian lebih kepadanya.
22. Bercintalah dengan gaya yang tak biasa. Seperti gaya bercinta menyender dinding.
23. Cemburu bumbunya cinta. Namun, ketika ia cumburu, Anda cukup mencumbu dan memeluknya dengan hangat.
24. Wanita mana yang tak bahagia saat menerima kado perhiasan. Ya, berikanlah.
25. Berikanlah dua handuk saat ia akan mandi. Handuk besar dan handuk kecil untuk menyeka wajah dan rambutnya.
26. Tanyakan hal kecil namun detail menyangkut pekerjaannya. Entah di rumah atau saat di kantor.
27. Kejutan sungguh menyenangkan. Meskipun itu kecil. Semisal membawa cemilan favoritnya.
28. Kirim bunga mahal ketika Anda berbuat salah. Ia merasa Anda masih mencintainya.
29. Buatlah ia tertawa, saat ia merasa sedih. Usaha itu sangat dihargainya.
30. Pergilah berlibur. Hanya berdua. Pilih tempat yang menyenangkan.
31. Ucapkan namanya dengan lembut, ketika ia berada di antara kedua kaki Anda. Ia pasti bahagia karena mendengar panggilan namanya.
32. Betulkan mobil atau handphonenya yang tengah bermasalah. Itu membuatnya bernilai lebih dengan nilai lebih yang Anda miliki.
33. Katakan bahwa ia perempuan cantik, setiap kali terlihat cantik. Pujian tulus membuatnya sedikit melayang.
34. Pujilah setiap kali ia mengenakan sesuatu yang baru. Entah pakaian, perhiasan atau apapun juga.
35. Pakailah parfum yang ia suka. Itu artinya, Anda menyukainya.
36. Bercukurlah setiap kali Anda makan malam dengannya. Penampilan yang klimis membuatnya terpesona.
37. Cium tangannya penuh kehangatan. Akan semakin bermakna, ketika Anda mencium di hadapan teman lajangnya.
38. Stresnya hilang seketika saat Anda mempedulikannya. Pijat punggungnya dengan lembut namun tetap dengan tekanan penghilang stress.
39. Ia enggan untuk bercinta, tak perlu memaksa. Mandikan dirinya, pijat seluruh tubuhnya, lalu saat tidur biarkan ia bersandar di dada Anda.
40. Ajaklah berbicara tentang mimpinya. Mendengarkannya bermimpi, sama saja mendorong mewujudkan mimpinya.
41. Sukai wajahnya, seperti menyukai apa yang sudah sepantasnya Anda cintai.
42. Pujalah bentuk indah tubuhnya. Seperti Anda memuja indahnya cinta.
43. Peluk tubuhnya demi menghangatkannya. Gengam tangannya cukup erat, selayaknya Anda tak ingin melepaskannya.
44. Cintailah payudaranya dan semua yang dimilikinya. Wah, Anda akan membuatnya terbang bahagia.
45. Katakanlah Anda tak akan sanggup hidup tanpanya.